Jejak Dakwah Tiga Abad, Masjid Asasi Sigando Jadi Saksi Sejarah Islam di Padang Panjang
Masjid ini diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1685, berawal dari sebuah surau sederhana yang menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat setempat.
PADANG PANJANG – Di tengah udara sejuk dataran tinggi Sumatera Barat, berdiri bangunan bersejarah yang menyimpan jejak panjang perjalanan dakwah Islam di Minangkabau. Dialah Masjid Asasi Sigando, salah satu masjid tua yang menjadi kebanggaan masyarakat Padang Panjang.
Masjid ini diperkirakan telah berdiri sejak tahun 1685, berawal dari sebuah surau sederhana yang menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat setempat.
Dari tempat inilah generasi demi generasi belajar membaca Al-Qur’an, mendalami ilmu agama, hingga bermusyawarah menyelesaikan berbagai persoalan nagari.
Seiring perjalanan waktu, surau tersebut berkembang menjadi masjid yang lebih besar dan kokoh.
Meski mengalami beberapa kali perbaikan dan penyesuaian bangunan, nilai sejarah dan bentuk arsitektur khas Minangkabau tetap dipertahankan sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat setempat.
Salah satu daya tarik utama Masjid Asasi Sigando terletak pada ukiran-ukiran yang menghiasi dindingnya.
Motif ukiran tersebut disebut memperlihatkan perpaduan pengaruh dari tiga kebudayaan berbeda, yakni Hindu, China, dan Minangkabau.
Perpaduan ini mencerminkan dinamika sejarah dan interaksi budaya yang pernah terjadi di kawasan Minangkabau pada masa lalu.
Keunikan lainnya terlihat pada struktur bangunannya. Masjid ini ditopang oleh sembilan tiang utama, dengan satu tiang di bagian tengah yang dikenal sebagai tonggak macu.
Tiang utama tersebut menjadi penyangga pusat bangunan, sementara delapan tiang lainnya mengelilinginya sebagai penopang tambahan.
Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, masjid ini sejak dahulu juga menjadi ruang sosial masyarakat.
Berbagai kegiatan seperti pengajian, pendidikan agama, hingga musyawarah adat kerap berlangsung di lingkungan masjid, menjadikannya bagian penting dari kehidupan masyarakat nagari.
Hingga kini, Masjid Asasi Sigando tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga warisan sejarah yang menggambarkan bagaimana Islam berkembang berdampingan dengan adat dan budaya lokal di Minangkabau.
Keberadaannya menjadi pengingat bahwa perjalanan dakwah di Ranah Minang telah berlangsung selama berabad-abad dan terus hidup dalam kehidupan masyarakat hingga hari ini.
Jika Anda berkunjung ke Kota Padang Panjang, masjid tua ini menjadi salah satu destinasi yang tidak hanya menawarkan nilai religius, tetapi juga kekayaan sejarah dan budaya Minangkabau yang tetap terjaga. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

